FOOD STORY

Sabtu, 12 Mei 2012

 Nikmatnya Pecel di Agrowisata Ngebruk
 
Agrowisata Ngebruk di Kendal, Jawa Tengah. 
KENDAL - Agro Wisata Ngebruk, merupakan tempat wisata yang pertama dan satu-satunya di Kabupaten Kendal yang menyediakan surga buah unggul atau Plantera Fruit Paradise di atas lahan seluas 210 hektare. Berlokasi di perbukitan yang berhawa sejuk, tepatnya di Desa Sidokumpul, Kecamatan Patean. Ketinggiannya mencapai 400 - 600 di atas permukaan laut.
Berbagai tanaman buah tersedia disini terutama buah unggulan seperti durian montong, lengkeng itoh, buah naga red dragon, srikaya grand anona, rambutan binjai dan ropiah dan jambu citra.
Di kebun yang dikelola secara modern dengan pemeliharaan berteknologi tinggi ini, pengunjung dapat menikmati perjalanan menyusuri perkebunan, memetik buah dan menikmati buah yang disukai. Tempat itu dibuka untuk umum setiap Sabtu dan Minggu, pukul 08.00-17.00.
Untuk menikmati Fruit Tour dengan menggunakan mobil wisata berkapasitas sekitar 15 orang itu, pengunjung harus membayar tarif Rp 25.000 per orang. Jarak tempuh Fruit Tour sekitar empat kilometer. Ada juga Fruit Safari, dengan harga tiket Rp 10.000 per orang, yaitu berjalan kaki mengelilingi kebun. Akan ada seorang pemandu yang akan mendampingi rombongan berkeliling kebun tersebut.
Jika ingin membeli buah, pengunjung tinggal memetik sendiri lalu menimbangnya. Untuk berkunjung ke Ngebruk, bila Anda dari Semarang, tidak perlu menuju Kendal. Lebih baik mengambil jalan pintas yaitu dari pertigaan Jerakah belok ke selatan menuju jalur Ngaliyan. Lantas ke Boja lurus sampai mentok pertigaan Singorojo. Jarak dari Jerakah/Ngaliyan sampai lokasi plantera sekitar 1,5 jam.
Pecel
Di tengah kebun Ngebruk ini, juga terdapat gazebo besar. Di tempat tersebut, pengunjung bisa menikmati hawa sejuk dan juga melihat buah-buahan segar di alam terbuka. Bagi yang ingin minum dan membeli buah-buahan, juga disediakan di dalam gazebo ini. Selain digunakan untuk istirahat, gazebo di tengah kebun merupakan tempat menikmati buah yang telah dibeli dan dipetik secara langsung.
Selain itu tersedia juga Plantera Resto'n Shop yang menyediakan hidangan dan aneka minuman berupa jus buah segar. Buah-buahan pilihan hasil kebun juga tersedia, mulai dari durian montong yang besar dan harum, kelengkeng itoh yang legit, buah naga, rambutan, srikaya, melon, semangka sampai jagung godok maupun bakar. Bila lapar, heeemmm... Anda juga bisa menikmati nasi pecel. Rasanya, sungguh luar biasa. Nah, selamat menikmati hari libur Anda.

Jumat, 11 Mei 2012

 Yuk, Makan Dimsum Sepuasnya
Dimsum di Oriental Cafe, Jakarta.
HEADLINE NEWS - Penggila dimsum wajib mampir ke Oriental Cafe di akhir pekan ini. Walau kelas bintang lima, dimsum yang ditawarkan bisa dinikmati dengan harga terjangkau. Hanya dengan Rp 76.800 (++) per orang, tamu bisa menyantap dimsum sepuasnya di restoran yang berada persis di bagian depan Redtop Hotel Jakarta. Hotel bintang lima ini berada di Jalan Pencenongan, Jakarta Pusat. Ada 32 jenis dimsum yang dapat dinikmati. Mulai dari dimsum klasik sampai modifikasi dari chef.
 
  Dimsum di Oriental Cafe, Jakarta.
Selain dimsum, menu yang dapat dinikmati sepuasnya adalah masakan Jepang seperti sushi dan masakan Korea. Dalam paket, minuman Chinese Tea sudah termasuk.
Menu klasik dimsum misalnya pangsit goreng. Dengan isian udang dan daun ketumbar yang tak pelit, aroma ketumbar yang harum sangat terasa. Tambahan pangsit yang membungkus digoreng renyah. Jadinya, garing di luar, lembut di dalam. Cocol dengan mayonaise, rasa gurih pangsit dan manis mayonaise begitu cocok.
Bakpao harus Anda cicipi, dengan isian ayam, kulit bakpao begitu lembut dan walau sudah tak hangat, tetap kenyal. Pilihan dimsum klasik lainnya hakau dengan isian udang. Coba juga bakso cumi, siomay ayam, ceker, siau long pao, dan casio pao.
 
 Sapo tahu di Oriental Cafe, Jakarta.
Paket makan dimsum sepuasnya ini hanya hadir di hari Minggu dan hari libur nasional, di jam 08.00 - 14.30. Oriental Cafe juga memiliki fasilitas internet gratis (wifi) untuk tamu. Di hari-hari biasa, menu dimsum ini bisa juga Anda nikmati. Walau bukan paket makan sepuasnya.
“Kalau hari bisa, dijual per klakat atau wadah bambu. Harganya variasi tergantung menunya. Tidak semua dimsum ada di luar hari Minggu. Tapi yang klasik selalu ada,” kata Food and Beverage Manager Oriental Cafe, Adi Khang.
Selain dimsum, Anda bisa menikmati menu Chinese lainnya. Coba menu klasik Sapo Tahu. Tahu putih lembut dengan kuah kental. Sentuhan jahe yang terasa membuat Sapo Tahu tak hanya gurih tapi menghentak hangat di lidah.
 
Udang goreng di Oriental Cafe, Jakarta.
Lalu Udang Goreng Bawah Putih, udang digoreng dengan bawang putih. Jadi ibarat bawang putih menjadi kremes dari udang. Daging udang yang manis dan lembut, berkolaborasi dengan garing bawang putih yang asin.  Ini baru sebagian menu, Anda bisa menikmati aneka hidangan ikan sampai kepiting di Oriental Cafe.
Harga bolehlah diadu. Seperti dimsum, per klakat diberi harga mulai dari Rp 12.000. Sementara hidangan utama lainnya diberi harga mulai dari Rp 27.000 sampai Rp 140.000. Seperti kepiting soka gandum, dapat dinikmati dengan harga Rp 55.000.

Kamis, 10 Mei 2012

Mencicipi Lawa, "Sashimi" ala Sulawesi Selatan
 
Ikan mentah siap diolah menjadi makanan "Lawa' Susi ala Sulawesi Selatan
BONE - Siapa yang tak kenal dengan sashimi? Makanan khas Jepang yang terbuat dari bahan ikan mentah. Kuliner yang memang telah tersehor ke seluruh pelosok dunia itu, ternyata telah lama dikenal oleh masyarakat Sulawesi Selatan.

Di Kabupaten Bone, kuliner ikan mentah ini dikenal nama "Lawa". Cara pembuatannyapun terbilang unik. Jenis ikannya beragam, tergantung dari selera pembuatnya.  Seperti yang dilakukan oleh sejumlah ibu di Kelurahan Panyula, Kecamatan Taneteriattang, Kamis (10/5/2012).

Secara bersama-sama mereka membuat "Lawa". Terlebih dahulu, ikan segar dibersihkan dengan membuang isi perut serta menghilangkan kepala dan tulang belulangnya. Ikan lalu direndam dengan cuka selama 15 menit. Hal ini diperuntukkan untuk membuat daging ikan menjadi matang dalam larutan cuka.

Sambil menunggu proses pelarutan daging ikan dengan cuka, bahan lainnya pun dipersiapkan. Seperti mangga muda yang diserut hingga menjadi potongan potongan kecil lalu disisihkan, serta kelapa parut.  Ada dua jenis olahan kelapa yang digunakan dam pembuatan "Lawa", yakni kelapa yang disangrai dan kelapa parut yang dibakar di atas bara api.

Sementara, bumbu dapurnya hanya menggunakan garam, merica, bawang merah dan bawang putih yang terlebih dahulu digoreng serta jeruk nipis dicampur penyedap rasa yang dihaluskan terlebih dahulu.  "Bahannya ini dari ikan laut yang masih mentah, dicampur kelapa dan bumbu, kalau bakteri dari daging ikannya dijamin tidak ada karena kita sudah rendam dengan cuka," ujar Ibu Lily, salah seorang pembuat ibu pembuat "Lawa".

Setelah semua adonan usai, daging ikan pun dicampur dan siap untuk disantap, rasanya pun gurih dan bau daging ikan mentahnya menghilang. "Enak sekali baru hilang bau amisnya," ujar Firman salah seorang penikmat kuliner ikan mentah ini.

Sejatinya, kuliner semacam ini banyak dijumpai di daerah Sulawesi Selatan, utamanya di daerah pesisir pantai serta masyarakat yang bermukim di pinggiran danau Tempe di kabupaten Wajo dan Soppeng. Selain menjadi makanan khas, kuliner ini juga dipercaya oleh sebagian warga untuk menambah stamina tubuh.

Rabu, 09 Mei 2012

Bubur Gabus, Paduan Rasa dan Khasiat
 
Suasana di Rumah Makan Jambi di Jalan M Roem Nomor 45, Kota Jambi.
Bubur yang telah matang dimasak bersama gabus sehingga rasa manisnya ikan ini bercampur pada bubur.
-- Lily Koesin
Bagi pencinta kuliner, bubur kepiting mungkin tak asing lagi. Nikmat disantap saat masih panas. Namun, pernahkah mencicipi bubur ikan gabus? Ternyata rasanya berani bersaing.
Paduan rasa gurih dan manis daging gabus yang lembut itu menyatu dalam bubur yang tersaji di Rumah Makan Jambi, Jalan M Roem, Kota Jambi.
Ketika si pemilik rumah makan, Lily Koesin (54), menyajikan menu baru ini delapan tahun lalu, banyak pelanggan yang menyukainya. Sebagian dari mereka semula mencicipi bubur itu untuk tujuan kesehatan, mengingat ikan gabus punya khasiat membersihkan darah dalam tubuh serta mempercepat pemulihan pascaoperasi.
Di balik khasiatnya, rasa bubur ikan gabus juga pas di lidah. Manis dan gurih. Dari aromanya bisa dipastikan bahwa ikan gabus yang dimasak masih segar diambil dari sungai, alias tidak bermalam dalam mesin pendingin.
”Bubur yang telah matang dimasak bersama gabus sehingga rasa manisnya ikan ini bercampur pada bubur,” kata Lily.
Lily hanya menambahkan bawang putih goreng serta irisan seledri untuk memperkaya rasa dan aroma. Dengan bumbu yang sederhana itu, lanjutnya, rasa ikan dalam bubur malah jadi lebih terasa.
Lama kelamaan, peminat bubur ikan gabus semakin beragam. Pencinta bubur dan penggemar ikan akan cepat menyukai menu ini. Hingga kini, mereka yang datang umumnya pelanggan lama. Menu tersebut juga menjadi salah satu favorit.
Ketika Kompas berkunjung, Jumat (27/4/2012) pagi, salah seorang pelanggan, Sabryanto, baru selesai menghabiskan menu kesukaannya. ”Saya selalu pesan bubur ikan gabus. Ini favorit saya,” ujar pria yang menjabat Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Jambi.
Begitu pula Romy, pelanggan lainnya, juga selalu memilih bubur ikan gabus untuk sarapan. ”Sesudah belanja di pasar, sarapan bubur ini paling cocok,” ujarnya.
Batanghari
 
Bubur ikan gabus merupakan salah satu menu favorit di Rumah Makan Jambi.
Sungai Batanghari yang membelah Kota Jambi menyediakan beragam jenis ikan air tawar, termasuk gabus. Potensi inilah yang diolah Lily untuk mengembangkan usaha rumah makan.
Lily memilih tidak menyediakan menu bubur kepiting atau udang seperti yang umumnya tersaji pada restoran hidangan laut, karena pertimbangan kadar kolesterolnya yang tinggi. Sedangkan bubur ikan gabus, selain berasa gurih, diyakini memberi manfaat yang baik untuk kesehatan tubuh.
Lily juga mengolah ikan gabus menjadi masakan pindang. Jenis masakan khas melayu ini punya kekuatan rasa asam, pedas, dan sedikit manis. Pindang gabus juga menarik perhatian pelanggannya.
Untuk menu ini, Lily meraciknya dengan bumbu lebih beragam, seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah, kunyit, lengkuas, daun salam, irisan tomat, dan tak ketinggalan asam jawa.
Selain itu, Lily juga mengolah ikan gabus menjadi sup. Dengan banyaknya jenis menu gabus, Lily membutuhkan 10 hingga 15 kilogram ikan gabus dalam satu hari untuk diolah menjadi tiga jenis masakan ini.
Walaupun gabus punya variasi masakan paling banyak, masakan pindang patin dan pindang udang, serta sup ayam, dan sup daging sapi tetap disediakan sebagai pelengkap. Khusus bagi penggemar masakan khas China, tersedia nasi tim hainan dan nasi tim bebek.
Generasi ketiga
Rumah Makan Jambi berdiri 11 tahun silam. Lokasinya berada persis dalam lingkungan Pasar Jambi, yang merupakan kompleks pertokoan tertua di Kota Jambi. Sebagian besar bangunan di sana masih merupakan bangunan zaman penjajahan Jepang, termasuk rumah makan ini.
Menurut Suhendra Limas (58), suami Lily, sebelum menjadi rumah makan, bangunan ini semula adalah toko kelontong yang dikelola sang kakek, Lim Tjiau Seng, serta anaknya, Lim Seng Hui. ”Kami adalah generasi ketiga yang menempati rumah ini,” ujar Suhendra.
Di masa itu, usaha kelontong tidak cukup menguntungkan. Lily yang gemar memasak kemudian berpikir untuk membuka usaha rumah makan. Usaha tersebut ternyata terus berkembang. Selain membuka usaha di lantai 1 bangunan, keluarga ini menempati lantai 2 sebagai tempat tinggal.
Selain masakan yang pas, suasana di sana terasa lebih akrab. Mungkin saja karena sebagian besar yang datang memang sudah kerap singgah dan saling mengenal. Namun, bagi yang baru pertama kali, rasanya bakal betah berlama-lama duduk, menikmati sajian, sambil ngobrol, bahkan di saat pengunjung telah semakin penuh sekalipun.

Selasa, 08 Mei 2012

Kuliner India Ini Mencuri Perhatian
 Masakan seafood disajikan dalam menu buffet di Satoo Restaurant, Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (24/4/2012). Dengan membayar mulai dari Rp 208.000 per orang, pengunjung bisa menikmati berbagai macam menu buffet seperti masakan India, Cina, Jepang, barat, hingga Indonesia pada jam sarapan, makan siang dan makan malam.
HEADLINE NEWS  - Pasta, sushi dan sashimi, serta nasi goreng, biasa hadir di buffet (prasmanan) restoran-restoran yang ada di hotel berbintang. Ya, seakan sebuah kewajiban untuk menghadirkan menu barat, Jepang, China, dan Indonesia.
Namun, di Satoo Restaurant yang berada di Shangri-La Hotel Jakarta, kuliner India malah mampu mencuri perhatian. Ada 12 station yang siap memanjakan lidah penggila buffet.
Salah satunya adalah station yang menyajikan kuliner India, ada banyak panci berisikan kari dengan aroma rempah yang menyeruak. Ambil Metchi Butter Naan, atau roti naan khas India. Bentuknya tipis seperti roti cane. Tektur lembut dan rasanya cenderung polos walau selintas terasa gurih mentega.
Karena paduan rasa polos mentega, naan cocok disiram dengan kari. Ada beragam kari yang bisa Anda coba. Misalnya Prawn Curry atau kari dengan udang, Panner and Mushroom Curry, Kerala Bittergourd Curry, dan Chicken Makhani.
 
Salah satu pilihan dalam menu buffet di Satoo Restaurant, Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (24/4/2012). Dengan membayar mulai dari Rp 208.000 per orang, pengunjung bisa menikmati berbagai macam menu buffet seperti masakan India, Cina, Jepang, barat, hingga Indonesia pada jam sarapan, makan siang dan makan malam. 
Kerala Bitterground Curry menggunakan bahan pare. Meski memakai pare, rasa pahit tak terlalu kentara lantaran dicampur rempah-rempah dari kari. Sementara Panner and Mushroom Curry adalah tahu putih yang lembuh dipadu dengan jamur. Naan yang memiliki rasa sederhana menjadi paduan pas dengan kari berempah dengan rasa tajam.
Sebagian orang merasa masakan India terlalu beraroma dan memiliki rasa yang menyengat. Namun, di Satoo, hentakan tajam dari kari diperhalus. Sehingga kari-kari pun dapat diterima oleh lidah Indonesia. Menu India lainnya yang patut dicoba adalah Chicken Tandoori, Vegetable Biryani, dan Chicken Tikka Masala.
Station lain yang biasa diserbu tamu adalah hidangan Chinese. Bebek peking panggang dalam bentuk utuh berjajar rapi mengundang selera. Bebek begitu lembut saat digigit. Selain itu, bebek begitu lengas dan berpadu apik dengan bumbu yang meresap.
 
 Peking Duck disajikan dalam menu buffet di Satoo Restaurant, Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (24/4/2012). Dengan membayar mulai dari Rp 208.000 per orang, pengunjung bisa menikmati berbagai macam menu buffet seperti masakan India, Cina, Jepang, barat, hingga Indonesia pada jam sarapan, makan siang dan makan malam.
Pilihan lain adalah station Indonesia dengan pilihan nasi goreng dan aneka hidangan lainnya seperti sate ayam. Lalu, pasta station dengan pilihan pasta seperti spaghetti, tagliate, dan pasta jenis lainnya yang berubah-ubah setiap hari. Pun dengan sausnya, ada banyak saus untuk menambah rasa pasta, seperti pesto dari daun basil, carbonara dari krim, sampai bolognese dari tomat. Isian pasta juga sesuai selera, mau bahan laut seperti ikan dan udang, atau yang klasik seperti bacon.
Sebelah station pasta adalah Noodle station yang menyajikan aneka hidangan mi. Seakan mempertemukan pasta, si mi ala barat, dengan mi ala Asia. Di station ini, hidangan yang tampil menggunakan udon, ramen, soba, mi, dan soun.
Di tengah area adalah station Jepang yang menghadirkan sushi dan sashimi. Sushi sudah disajikan, Anda tinggal mengambilnya. Sementara sashimi, Anda pesan dulu pada chef station untuk minta dipotongkan tuna atau salmon. Seberang station tersebut adalah station salad.
Sentuhan makanan barat berada di sudut dekat station Indonesia. Aneka keju bisa Anda nikmati. Lalu station yang agak tersembunyi, tepatnya station yang menghadap ke taman adalah station grill atau barbeque. Daging sapi tenderloin dan sirloin, ayam, ikan, atau udang, bisa dibakar sesuai pilihan.
Puas dengan aneka menu berat, silahkan tutup dengan hidangan pencuci mulut di dessert station. Kue, es krim, puding, manisan, bisa menjadi pilihan. Tetapi paling mencolok tentu chocolate fountain (air mancur cokelat). Biasanya, buffet di hotel-hotel berbintang tak setiap hari mengeluarkan chocolate fountain. Di Satoo, chocolate fountain selalu ada setiap hari. Seberang dessert station adalah station buah dan jamu station.
 
Menu buffet disajikan di Satoo Restaurant, Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (24/4/2012). Dengan membayar mulai dari Rp 208.000 per orang, pengunjung bisa menikmati berbagai macam menu buffet seperti masakan India, Cina, Jepang, barat, hingga Indonesia pada jam sarapan, makan siang dan makan malam. 
"Ibu jamu yang meracik ini asli ibu-ibu jamu gendongan. Tinggal dilatih bagaimana menjaga higienitas," tutur Executive Communications Shangri-La Hotel Jakarta, Felicia Setiawan.
Di jamu station, tamu bisa mencicipi minuman herbal khas Indonesia yang klasik seperti beras kencur. Ada pula hasil paduan seperti Jamu Capucinno dan Jamu Fruit Punch.
Satoo memang menawarkan pengalaman kuliner mulai dari hidangan Indonesia, Asia, sampai Barat. Walau untuk hidangan barat terbatas pada masakan Italia dan ala Amerika. Hanya saja, Satoo sejak lama menjadi buruan penggemar buffet atau restoran dengan konsep "all you can eat" di Jakarta. Tak heran, setiap hari Satoo tampak ramai.
Harga untuk prasmanan berbeda-beda tergantung hari dan jam. Untuk makan siang harga mulai dari Rp 208.000 (++). Satoo mengusung station dengan model dapur terbuka. Sehingga tamu dapat memesan langsung makanan yang diinginkan. Tak hanya itu, setiap station ditata dengan cantik. Misalnya station Indonesia lengkap dengan hiasan aneka rempah dan beras. Atau, station India yang menampilkan kari dalam wadah panci warna-warni. Begitu cantik...

Senin, 07 Mei 2012

Farah Quinn Bawa Kopi Luwak dan Lapis Legit ke Selandia Baru
 Gaya chef Farah Quinn saat memasak.
ADELAIDE - Koki, model dan selebriti Indonesia Farah Quinn sekarang sedang berada di Selandia Baru guna mempromosikan pariwisata negara tersebut guna menarik lebih banyak pengunjung dari Indonesia. Selain akan mempromosikan Selandia Baru, Farah juga tampil di berbagai media di Selandia Baru memperkenalkan masakan Indonesia.
Ketenaran Farah lewat acara memasaknya Ala Chef, dan juga pengaruhnya di jaringan sosial Facebook (lebih satu juta pengikut) dan Twitter (lebih dari 237 ribu pengikut) menjadikannya sebagai Duta keliling bagi Selandia Baru.
Farah Quinn diundang oleh Bandara Auckland, bandara di ibukota Selandia Baru tersebut yang sekarang giat melakukan promosi di banyak kawasan Asia.
Dalam rilisnya hari Senin (7/5/2012), pihak pengelola Bandara Auckland mengatakan walau Selandia Baru sebenarnya memiliki tempat-tempat wisata yang tidak kalah menariknya dibandingkan Eropa dan Amerika, namun kehadiran mereka masih belum maksimal di Asia. Karenanya menggunakan selebriti seperti Farah Quinn, diharapkan akan lebih mempopulerkan Selandia Baru.
"Kami bermaksud menggunakan popularitas Farah di Indonesia, khususnya lewat sosial media, guna menyampaikan pesan bahwa Selandia Baru adalah destinasi mewah yang harus dikunjungi oleh orang-orang dari Indonesia," kata Glen Wedlock, Manajer Umum di Bandara Auckland.
Hari Sabtu (5/5/2012), Farah Quinn juga tampil dalam acara Breakfast di Televisi One Selandia Baru, dimana Farah membawa beberapa kue diantaranya lapis legit, nastar, kue satu untuk dicicipi oleh pembawa acara. Farah juga memperkenalkan kopi luwak.
"Mereka tertarik dengan lapis legit dan kopi luwak yang kubawa dari Indonesia," kata Farah di halaman Facebooknya. Dengan sekitar 42 juta pengguna Facebook di Indonesia, semakin banyak kecenderungan promosi sekarang dilakukan lewat jaringan sosial. 

Minggu, 06 Mei 2012

Soto Branggahan, Dua Mangkuk Baru Kenyang...
Soto Branggahan, soto dengan kuah santan dan selalu disajikan dalam mangkok kecil. Soto Branggahan banyak dijajakan di Branggahan, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
KEDIRI - Soto Branggahan, begitulah masyarakat menyebutnya. Masakan berkuah isi daging ayam dengan segala ciri khasnya ini dinamai Branggahan karena hanya dijumpai di desa Branggahan, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Isi soto Branggahan menggunakan daging ayam kampong.
Selain itu, yang membedakan dengan jenis soto lainnya adalah kuahnya yang bercampur dengan santan sehingga rasa gurihnya semakin kuat. Ditambah pula racikan bumbu rempah yang tepat. Cara penyajiannya pun tak kalah menarik.
Ukuran mangkuknya tak sebesar sebagaimana wadah penyajian soto pada umumnya, tetapi menggunakan mangkuk kecil yang menyerupai cawan. Sehingga, setidaknya butuh dua mangkuk untuk membuat perut cukup terisi. "Saya gak tahu kenapa mangkuknya kecil, sejak dulu ya begini ini," kata Ilyas, salah satu pedagang soto Branggahan, Sabtu (5/5/2012).
Maklum saja dinamai Branggahan karena di desa yang terletak di Kediri bagian selatan dan hampir berbatasan dengan Kabupaten Tulungagung ini terdapat puluhan pedagang yang khusus menjajakan soto ini. Mereka menjajakannya di warung-warung tenda semi permanen yang dibangun di sepanjang pinggir jalan. "Kalau ada pertemuan paguyuban, jumlahnya mencapai 51 pedagang soto," ujar Ilyas.
Para pedagang itu umumnya adalah warga sekitar dan telah berjualan soto secara turun temurun. Begitu pula dengan Ilyas, ia dan tiga orang saudaranya sama-sama berjualan soto karena meneruskan usaha kakeknya.
Dari cerita yang selama ini beredar, "sentra soto" tersebut sudah ada sejak tahun 1950. Para pedagang tersebut menjajakannya setiap hari. Bahkan diakhir pekan, jam buka warung bisa bertambah hingga larut malam. Hal ini karena banyaknya pengunjung yang datang. "Rasanya enak dan harganya terjangkau, cukup Rp.5.000 saja," kata Hera, salah seorang pembeli.