FOOD STORY

Selasa, 01 Mei 2012

Lezatnya Otak-otak Makassar
Otak-otak Makassar.
MEDIA INFORMASI - Pergi ke Makassar jangan lupa mencoba makanan otak-otak merk Ibu Elly. Otak-otak yang dibungkus daun pisang ukurannya lebih besar dibanding otak-otak yang ada di Jakarta. Bisa dibeli di tokonya di Jl Kijang Makassar, Sulawesi Selatan. Bungkusan otak-otaknya selalu dibungkus daun warna hijau muda yang masih segar dan harga Rp 2.800 per buah.
Untuk yang tinggal di Jakarta sudah ada cabang di Pantai Indah Kapuk dan Jalan Fatmawati yang dikelola anaknya. Setiap hari otak-otak dengan rasa ikan tengiri ini memproduksi 10.000 bungkus otak-otak. Sebagian besar untuk oleh-oleh wisatawan yang habis melancong di Makassar.
Kotak kemasan di luar kardus tempat otak-otak ada tulisan oleh-oleh khas Makassar dengan warna kuning bunga matahari dan  hijau daun. Bungkusan otak-otaknya memang kelihatan cantik dengan daun pisang yang masih segar berwarna hijau muda.
Otak-otak ini diproduksi sejak tahun 1995 meneruskan usaha mertuanya. Rasanya tidak berubah sepanjang 17 tahun karena ikan tengirinya dijamin dari pilihan ikan terbaik. Sehari ikan tengiri yang harus digiling sebanyak 50 kilogram. Otak-otaknya agar awet sampai beberapa hari bisa disimpan di-freezer dan siap dimakan dengan dibakar lebih dulu.
Bungkusan otak-otaknya yang berukuran besar selebar ibu jari orang dewasa dan panjang 10 centimeter mengundang selera untuk segera mencicipinya apabila dihidangkan panas-panas setelah dibakar. Rasanya kenyal dan rasa ikan tengirinya sangat terasa. Apalagi dicocol dengan bumbu tauco rasanya tambah mantap.
Di Toko Elly yang menempati sebuah ruko ini sekaligus menjadi tempat membuat  otak-otak. Oleh-oleh khas Makassar lainnya yang juga bisa dibeli juga antara lain pisang hijau, kacang makassar, abon ikan, sambel kuning, markisa, minyak gosok dan kain sutra khas Makassar.

Senin, 30 April 2012

Mie Belitung Atep atau Mie Artis!
 Mie Belitong Atep.
MEDIA INFORMASI - Kalau Anda sedang  wisata kuliner ke Pulau Belitung jangan lupa mampir makan Mie Belitung Atep di Kota Tanjungpandan. Mie Belitung adalah mie kuning yang disiram kuah udang dan ditaburi bakwan udang, irisan timun, potongan kentang rebus, udang rebus, emping melinjo dan taoge ini sangat khas rasanya karena tidak ada di kota lain.
Nyonya Atep yang saat ini berusia 67 tahun ternyata telah 39 tahun berjualan mie belitung dan sampai sekarang masih melayani sendiri pembelinya dengan meracik sendiri bumbunya. Cara penyajiannya, mie kuning ditata dengan taburan taoge, irisan timun, potongan kentang rebus, emping melinjo dan terakhir disiram kuah udang kental yang berwarna kecoklatan. Seekor udang ukuran utuh juga disajikan diatas siaraman kuahnya. Aroma kuah kaldunya yang berbau udang sangat menggugah selera apalagi dimakan saat panas.
Rasa mie belitung yang membikin nikmat adalah kuahnya. Karena berasal dari kaldu udang asli ditambahi bumbu-bumbu. Kuah mie yang berwarna kecoklatan seperti gula aren terasa manis dan gurih campuran dari kuah rebusan udang dan gula aren serta bumbu merica, laos dan daun salam. Kuahnya kental dan segar cocok untuk makan siang rasanya terasa pas mengalir di lidah.
Nyonya Atep tidak pernah membuka cabang di tempat lain dan menjadi legenda sebagai mie penggagas mie belitung karena sudah 39 tahun berjualan. Dengan ramah  Nyonya Atep bercerita kepada pengunjung restorannya, bahwa dia asli kelahiran Belitung dan diajari bumbu masak resep leluhurnya membuat mie belitung. Sayang sekali anak-anaknya tidak mau membuka cabang di kota lain karena telah mempunyai pekerjaan lain.
Restorannya yang sederhana berada di ruko bisa menampung lima puluh tamu di jam yang sama. Tetapi penyajiannya tetap menunggu tamu datang jadi makan mienya pasti selalu baru dimasak. Harga Mie Belitung Atep cukup Rp 10.000 per porsi. Selain mie belitung ada juga menu lain nasi tim ayam yang dijual dengan harga Rp 11.000 per porsi. Karena sering dikunjungi artis,  mie ini sering dijuluki mie artis. Hampir kebanyakan pengunjungnya adalah wisatawan dari luar kota yang telah mendapat rekomendasi salah satu tujuan wisata kuliner. Karena lokasinya pas di tengah kota Tanjungpandan memang strategis untuk didatangi.
Karena Pulau Belitung terkenal dengan makanan hasil laut. Maka mie belitung identik dengan olahan laut. Kalau di kota lain ada mie ayam, mie kocok, mie rebus, maka di mie Belitung memang terbuat dari kuah udang dan bakwan udang. Kerupuk pendamping makannya juga berbahan hasil laut antara kerupuk udang, kerupuk cumi dan kerupuk ikan.
Lokasinya tepat di tengah kota Jalan Sriwijaya, Tanjungpandan. Warung ini menempati  sebuah ruko yang sederhana dan bermeja kayu panjang dengan kursi plastik. Dari  kursi pengunjung bisa melihat Nyonya Atep meracik mienya.
Mie kuning diseduh sebentar air panas. Setelah disaring airnya diberi pelengkapan lauknya.Setiap  meracik mie belitung bisa langsung disiapkan sepuluh piring porsi. Jadi me belitungnya selalu fresh karena baru disiapkan setelah pembeli memesan.
Selain mie belitung, wisata kuliner lain di Pulau Belitung adalah sop gangan ikan, otak-otak, tekwan, empek-empek, martabak bangka, rajungan masak asam manis atau saus tiram.

Sabtu, 28 April 2012

Sate Ikan Marlin Khas Tanjung, Memang Maknyus!
Sate ikan marlin khas Tanjung, Lombok Utara, NTB. 

Pada jamuan makan malam yang digelar Gili Jazz di Gili Trawangan, Lombok, Senin (23/4/2012) lalu, hidangan sate ikan marlin khas Tanjung menjadi menu utama yang sayang untuk dilewatkan.
Sebelum dihidangkan, ketika sate buatan pasangan suami istri Artiman dan Nur Santen tersebut masih dipanggang dengan arang batok kelapa, belum apa-apa wanginya sudah menerbitkan selera makan.
Menurut Artiman, sate ikan marlin buatannya itu cukup istimewa. "Biasanya dari ikan cakalang, tapi kami memakai ikan marlin yang kira-kira berat per ekornya 40 kilogram," ujar Artiman yang mematok harga Rp 10.000 untuk lima tusuk satenya.
Untuk menciptakan rasa gurih dan menambah selera, Artiman dan Nur Santen meracik bumbu sederhana yang dioleskan di atas satai sebelum dipanggang. "Pertama pisahkan daging dari tulangnya, terus potong kecil-kecil. Setelah itu kasih bumbu dari santan yang diayak, lengkuas, jahe, dan kemiri," papar Artiman.
"Rahasia supaya harum, saya kasih perasan daun jeruk nipis," lanjutnya.
Sebelum dikenal luas di Lombok, sate ikan tersebut konon berasal dari Kampung Kandang Kao tempat kelahiran Nur Santen. "Ini asli dari kampungnya Ibu (Nur Santen). Jadi orangtua dulu enggak setiap hari bikin begini, hanya hari lebaran yang dihidangkan di masjid-masjid. Lama-lama banyak yang berminat, jadi dibawalah ke luar," kisah Artiman.

Jumat, 27 April 2012

Waroengkoe, Alternatif Tongkrongan Muda-mudi Bali
 Waroengkoe yang terletak di Jalan Waturenggong, Denpasar, Bali, memiliki ciri khas interior klasik dan dapat menjadi alternatif wisata kuliner serta tongkrongan yang nyaman.

DENPASAR - Mencari kuliner lezat, unik, dan bercita rasa tinggi sangat mudah ditemui di Bali. Begitu juga dengan tempat tongkrongan yang "cozy", asyik, gaul untuk kawula muda, bertebaran dimana-mana.
Namun tak banyak yang menawarkan konsep gabungan keduanya, kuliner sekaligus tempat tongkrongan. Salah satu tempat yang dapat menjadi alternatif wisata kuliner serta tempat tongkrongan muda-mudi Bali adalah Waroengkoe.
Sebuah warung makan yang terletak di Jalan Waturenggong, Denpasar ini memiliki banyak keunikan. Konsep interior klasik perpaduan Jawa-Bali akan memanjakan anda saat masuk ke dalamnya.
"Awalnya coba-coba , tapi mungkin tempatnya mereka (konsumen) suka, tempatnya unik lain daripada yang lain," ujar pemilik Waroengkoe, Chandra Dewi (46) yang memulai usaha "coba-coba"-nya ini 7 tahun silam.
Tak hanya desain interiornya yang memadukan budaya Jawa dan Bali, menu masakannya pun kolaborasi antara keduanya. Jika ingin menyantap makanan berat, menu masakan khas Jawa seperti rawon, nasi campur dengan berbagai pilihan lauk dan sayur seperti tumis kangkung, cah tauge, kering tempe siap memanjakan lidah Anda.
Tapi jika Anda hanya ingin menikmati camilan atau bisa juga sebagai makanan penutup, kuliner khas rujak Bali menjadi andalan disini. "Disini ada rujak gula, kacang, dan cuka," kata ibu dua anak tersebut.
Soal rasa, tak perlu diragukan lagi. Rata-rata pengunjung yang pernah mencoba masakan Waroengkoe, biasanya mereka akan datang kembali.
"Menunya enak, suasana unik, gak ada yang mengecewakan disini, harga juga terjangkau," tutur Dharma, seorang karyawan swasta yang menjadi pelanggan tetap Waroengkoe.
Anda tak hanya disuguhi kuliner dengan cita rasa tinggi, tapi di Waroengkoe anda juga bisa "nongkrong" bersama kekasih, keluarga, rekan kerja, atau sekedar bercengkrama bersama teman dengan penuh kenyamanan.
"Biasanya makan dan ngobrol, disini enak buat nongkrong-nongkrong," imbuh pria berusia 23 tahun yang hampir setiap hari makan siang di Waroengkoe.
Menu pilihan untuk "nongkrong" pun tak kalah variatif dengan menu utama, di Waroengkoe Anda dapat memesan kentang goreng, roti bakar, ditemani wedang jahe yang bahannya didatangkan langsung dari Klaten, Jawa Tengah, atau kopi Bali yang memiliki rasa serta aroma khas Pulau Seribu Pura.
Meski lebih didominasi kaum muda, mulai pelajar, mahasiswa, hingga profesional muda, menu dan suasana nyaman Waroengkoe juga cocok untuk semua umur dan kalangan. "Ada yang kalau siang makan disini sama teman kerja, terus malamnya bawa keluarga kesini," ungkap Muhammad Ustaf Sukwan (47), suami Chandra yang ikut mengelola Waroengkoe.
Soal harga, Anda tak perlu khawatir, karena banyak pelanggan dari kalangan pelajar dan mahasiswa, tarifnya pun disesuaikan dengan kantong mereka. Untuk menu nasi campur rata-rata dibanderol Rp 15.000, camilan seperti rujak Rp 6.000, dan untuk minuman seperti wedang jahe dan kopi bali hanya Rp 5.000.
"Harga terjangkau untuk berbagai kalangan, kalau mau naikin harga Rp 500 aja, kita mikirnya sebulan karena memperhatikan pelanggan yang dari pelajar dan anak kos," beber Wawan, sapaan akrabnya.
Waroengkoe buka setiap hari mulai jam 12.00 WITA hingga pukul 23.00 WITA. Letak Waroengkoe juga mudah dijangkau, dari perempatan SMA Negeri 2 Denpasar, sekitar 100 meter ke timur Jalan Waturenggong, Anda akan menemui Waroengkoe dengan ciri khas bangunan unik di selatan jalan.

Kamis, 26 April 2012

Ini Dia Nasi Kucing Tepi Palmerah
 
Pengunjung memilih berbagai macam sate dan gorengan di Angkringan Sego Kucing jalan Palmerah Barat, Jakarta, Senin (23/4/2012). Makanan rakyat khas Daerah Istimewa Yogyakarta ini disajikan seperti aslinya lengkap dengan teh poci dan pilihan nasi kucing isi teri, telur dadar, dan tempe.

Angkringan khas Yogyakarta sudah banyak bermunculan di Jakarta. Tak hanya orang asli Yogyakarta, tetapi juga orang-orang yang pernah menetap di Yogyakarta, akan selalu menyimpan kerinduan untuk menikmati ”nangkring” di angkringan, saat harus merantau ke Jakarta.
Di Jalan Palmerah Barat, Jakarta Barat, Anda bisa mampir di gerobak angkringan ala Yogyakarta. Untuk menemukan angkringan ini, arahkan kendaraan Anda dari Pasar Rawa Belong menuju Pasar Palmerah. Angkringan tersebut akan berada di sisi kiri jalan.
Dengan embel-embel Sego Kucing Gunung Kidul, angkringan ini baru selepas magrib. Sesuai nama angkringan, nasi kucing sudah pasti menjadi menu utama. Lalu mengapa ”Gunung Kidul”? Memangnya ada bedanya nasi kucing di Gunung Kidul, Bantul, atau daerah lain di Yogyakarta?
”Oh sama saja. Ini disebut Gunung Kidul, soalnya saya dari Gunung Kidul,” kata Sentot sambil tertawa, pemilik angkringan tersebut saat disambangi Kompas.com, Senin (23/4/2012).
Sentot bukanlah satu-satunya pemilik angkringan tersebut. Bersama beberapa teman, mereka membuat angkringan pertama di Jalan Palmerah Barat sekitar tiga tahun lalu. Selanjutnya mereka buka lagi di dua tempat berbeda lainnya, masih di daerah Jakarta Barat.
Layaknya angkringan di Yogyakarta yang berkonsep santai untuk tempat berbincang-bincang sambil menikmati hidangan sederhana, beberapa pengunjung biasa mengajak Sentot dan teman-temannya mengobrol. Bahkan, Sentot pun akhirnya punya nama beken.
”Ya itu, Sentot itu nama beken saya. Nama asli saya di kampung itu Bayu,” ungkapnya sambil tertawa.
Nasi kucing yang tersedia di angkringan ini ada nasi kucing isi teri, nasi kucing isi tempe, dan nasi kucing isi telur dadar. Sebagai pelengkap, menu-menu khas angkringan pun menjadi teman nasi kucing. Ambil sendiri lauk yang Anda inginkan. Lalu minta Sentot untuk membakarnya.
Sebut saja seperti sate usus, sate ampela, tahu dan tempe bacem, aneka gorengan, serta ayam bacem. Ini baru sebagian besar yang disebut. Jika Anda datang langsung, gerobak penuh dengan aneka lauk. Sama seperti nasi kucing, semuanya tentu dalam porsi-porsi kecil.
Berbeda dengan beberapa angkringan di Jakarta, rasa menu-menu di angkringan tersebut selintas membawa kerinduan lidah akan angkringan di Yogyakarta. Rasa legit dari lauk-lauk begitu terasa. Tak hanya lauk bacem, bahkan sate usus dan sate sosis pun begitu legit.
Semakin mantap ditemani teh poci. Walau teko yang digunakan bukan dari tanah liat melainkan teko dari kaleng, pun gelas-gelas kecilnya. Teh poci disuguhkan dengan gula batu. Jangan berharap harganya akan semurah di Yogyakarta. Ini Jakarta. Sate diberi harga Rp 2.000, sedangkan harga nasi kucing Rp 1.500.
Malam semakin larut, saat pengunjung mulai berdatangan. Tampak rapi khas busana kantoran. Tak peduli busana rapi, mereka dengan santai lesehan di tikar yang disediakan di dekat gerobak angkringan.
Menanti urainya kemacetan Jakarta, sambil menikmati nasi kucing dan teh poci. Lalu berbincang santai dengan Sentot dalam bahasa Jawa. Sejenak memori membawa diri ke Yogyakarta.

Rabu, 25 April 2012

Seru! Makan Ikan Bakar di Tengah Kolam
RM. Sari Cobek Cangkuang, Garut, Jawa Barat.
 Sesuai namanya, Rumah Makan Sari Cobek Cangkuang terletak sangat dekat dengan Situ Cangkuang dan Candi Cangkuang, obyek wisata favorit di Garut, Jawa Barat. Lokasi persisnya berada di kawasan parkir obyek wisata Candi Cangkuang.
Saat melangkah masuk ke RM Sari Cobek Cangkuang, kolam luas dengan saung-saung tampak memikat. Tempat makan yang disediakan memang berada di saung-saung berbagai ukuran. Ada saung yang dapat memuat 4-6 orang. Ada pula yang memuat rombongan jumlah besar. Hampir semua saung berada di atas kolam ikan.
Uniknya, di setiap saung tersedia kentongan untuk memanggil pelayan. Makin unik karena disediakan juga alat pancing bagi tamu. Tentu saja alat pancing hanya diberikan jika tamu khusus meminta. Ya, jika Anda kebetulan mampir bersama si kecil, ajak anak Anda memancing di rumah makan ini.
Kolam di tengah rumah makan berisikan ikan-ikan yang dapat dipancing. Tentu seru sambil menunggu makanan datang, anak-anak dapat memancing ikan dari saung. Namun, sekadar melihat ikan-ikan yang berenang pun sudah memberikan keseruan tersendiri.
Soal menu, sesuai dengan lokasinya yang dekat dengan danau luas Cangkuang, ikan bakar atau goreng menjadi pilihan. Selain itu, aneka sayur cobek dan sambal cobek. Tumis kangkung pun tak boleh terlewatkan. Kangkung ditumis dengan kematangan yang pas sehingga masih tetap garing saat digigit. Coba pula tempe oseng manis.
Selain rumah makan, di lokasi rumah makan juga tersedia penginapan sederhana. Hanya ada dua kamar yang ditawarkan. Penginapan pun ibarat saung atau rumah panggung dari bambu. Apalagi ditambah panorama kebun sayuran dengan latar belakang. Tambahan lagi udara sejuk. Makin menambah suasana asri khas pedesaan.

Selasa, 24 April 2012

Nasi Bakar Ayam Tiga Rasa, Nikmatnya...
Nasi bakar ayam tiga rasa.
Mendapat info dari beberapa teman, katanya ada tempat penjual nasi bakar yang mesti dicoba, nama tempatnya M Food, berada di Mall Ciputra lower ground. Kalau mau mudah, Anda bisa masuk dari pintu samping kampus Untar, M Food ada di pintu masuk tersebut.
Memang areanya tidak terlalu besar, tapi pas kita datang hampir semua meja penuh, kebetulan pas kami datang juga sudah waktu jam makan malam jadi biasa tempat makan di mal selalu ramai. Nah info yang kami dapat menu yang menjadi favorit di M Food ini adalah Nasi Bakar Ayam 3 Rasa dan Nasi Bakar Empal.
Jadi kita pesan sesuai rekomendasi dari teman-teman kami nasi bakar ayam 3 rasa dan nasi bakar empal, untuk minum kami pesan teh jahe, kami juga pesan sekoteng. Sudah lama banget nggak nemu menu sekoteng di Jakarta lho.
Nah tidak menunggu terlalu lama menu yang kami pesan sudah datang semua, kecuali sekoteng, itu memang permintaan kita supaya nanti saja kalau sudah selesai makan baru di keluarkan.
Karena jam sudah menunjukkan pukul 19.10, otomatis perut sudah terasa lapar, langsung kita cicipi menu nasi bakar ala M Food. Yang pertama kita cicipi nasi bakar ayam 3 rasa. Isinya nasi, ayam goreng diberi bumbu 3 rasa, teri kacang, sayur daun singkong dan jamur. Nasinya wangi, ayamnya enak, bumbunya cukup oke, dan dipadu dengan teri kacang jadi lebih nikmat, untuk jamur dan daun singkongnya sebagai pelengkap saja. Cuma sayang disajikan kurang panas, kalau lebih panas pasti lebih nikmat.
Kita cobain juga nasi bakar empal, isinya hampir sama dengan nasi bakar ayam 3 rasa, Cuma ini pakai daging empal (daging sapi), tapi dagingnya empuk lho. Kita pesan minum teh jahe, jarang nih kita nemu menu teh jahe. Sebenarnya air teh biasa ditambah dengan jahe, tapi rasanya jadi enak lho, di badan hangat tentunya.
Menu terakhir kita adalah sekoteng, isi sekotengnya adalah roti, kacang tanah, kacang hijau, jahe, gula dan susu. Untuk rasa menurut kita rasanya agak terlalu manis mungkin terlalu banyak susu dan rasa jahenya kurang nendang.